Wanita mana yang tidak bahagia menjadi seorang ibu? Saya rasa semua wanita pasti akan bahagia ketika sang buah hati terlahir ke dunia. Begitupun saya. Adalah kebahagiaan tersendiri ketika melihat bayi yang kukandung lahir. Terlebih Alloh memberikan saya anak-anak hebat, anak istimewa yang membuat kedua orang tuanya semakin banyak belajar.
Anak pertama saya lahir pada masa kehamilan 37 minggu. Hampir prematur. Perempuan, Nilam namanya. Kuberi dia ASI eksklusif selama 7 bulan karena ia lahir satu bulan lebih cepat. Aku kembali kuliah dan bekerja saat ia berusia sepuluh bulan. Tapi, aku hanya mengajar tiga jam perhari. Saat ada saya dia akan selalu bersama saya. Usia empat tahun dia mulai masuk TK A. Mei 2009, ketika saya wisuda, ibuku datang ke Jakarta. Permata hatiku ini minta ikut ketika neneknya pulang ke kampung. Saya pikir biarlah dia berlibur, toh nanti jika bosan dia akan kembali balik ke Jakarta. Namanya juga anak-anak.
Ternyata meski sudah sebulan di kampung tanpa orang tuanya, tak membuat dia ingin tinggal di Jakarta. Dia justru meminta sekolah di kampung. Diusia 5 tahun anakku sudah menentukan pilihannya sendiri untuk sekolah dan mengaji. Saat ini dia kelas satu SD dan telah menghafal beberapa surat di juz 'amma.
Anak kedua saya laki-laki. Dia terlahir prematur pada usia 27 minggu kehamilan. Dengan berat 890 gram, dia menangis saat dilahirkan. Kupanggi dia Daffa(;orang yang mempertahankan). Empat puluh lima hari di inkubator. Menurut dokter yang merawatnya ia cukup cepat beradaptasi. Tetapi Ia tetap memperoleh oksigen hingga 17 hari. Karena daya isap yang lemah, dia masih minum melalui NGT (selang) hingga satu bulan. Usia 45 hari, dia boleh dibawa pulang dengan berat 1840 gram. Tujuh belas hari bobotnya naik menjadi 2670 gram. Perkembangan yang bagus. Dengan berat lebih dari 2,5kg dokter memberinya imunisasi BCG dan polio. Tiga hari setelah periksa, tepatnya Senin 15 feb 2009 dia beberpa kali batuk saat menyusu. Saya pikir tersedak. Tapi, pukul 20.30 dia batuk empat kali bukan pada saat menyusu.
Dia tetap menyusu dua jam sekali. Selasa, pukul 00.05 dia bangun dan menyusu. Selesai menyusu, kuletakkan dia di tempat tidur. Sayapun ikut tertidur. Pukul 01.10, aku tersentak seperti di bangunkan. Kudapati anakku sudah dingin dan terdiam. Berharap masih bisa ditemukan tanda kehidupan, kubawa ke rumah sakit. Tapi, dokter tetap tak menemukan nadinya. Dan . . . dia meninggal.
Saya tak tahu bagaimana perasaanku saat itu. Saya hanya meyakinkan diri bahwa ini yang terbaik dari Alloh. Semoga Dzaka Syarief Aflah mendapat tempat terbaik di sisi Alloh dengan kehidupan yang lebih baik, lebih nyaman, dan sejahtera. Selamat jalan nak. Dengan usiamu 67 hari, kamu sudah memberikan banyak kebahagiaan dan pembelajaran bagi orang tuamu dan orang-orang yang tahu perjuanganmu